.

Selamat Datang Di Blog Vihara Budi Dharma Purwakarta. Alamat: Jalan Jend.Sudirman No 181 Purwakarta 41115. e-mail: pmvbudidharma@yahoo.com

Sabtu, 16 Maret 2013

ANABHIRATI-JĀTAKA




“Seperti jalan raya,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang upasaka yang lain, dengan kejadian yang sama seperti kejadian
sebelumnya. Pria ini, dalam penyelidikan yang dilakukannya, menjadi yakin akan perilaku buruk istrinya. Ia berbicara dengan istrinya, hasilnya ia begitu kecewa sehingga selama tujuh atau delapan hari ia tidak berkunjung. Suatu hari ia datang ke wihara (vihāra), memberikan penghormatan kepada Tathagata (Tathāgata) dan mengambil tempat duduk. Ketika ditanya mengapa ia absen selama tujuh atau delapan hari, ia menjawab, “Bhante, istri saya berperilaku buruk, dan saya begitu kecewa karena tindakannya, sehingga saya tidak datang.”
“Upasaka,” kata Sang Guru, “pada waktu yang lampau ia yang bijaksana dan baik telah memberitahukanmu untuk tidak marah terhadap kelakuan buruk yang ditemukan dalam diri
wanita, sebaliknya, agar tetap memelihara ketenangan batinmu; tetapi, hal ini telah Anda lupakan, karena kelahiran kembali telah menyembunyikan hal tersebut darimu.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, beliau menceritakan—atas permohonan upasaka tersebut—kisah kelahiran lampau ini.
____________________
Pada suatu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta adalah seorang guru dengan reputasi yang sangat terkenal, sama seperti cerita sebelumnya. Dan seorang muridnya, mendapati istrinya tidak setia, sangat terpengaruh oleh kejadian tersebut, sehingga ia tidak berkunjung selama beberapa hari. Suatu hari, saat ditanya oleh gurunya apa yang menjadi alasan ketidakhadirannya, ia mengakuinya. Gurunya berkata, “Anakku, sangat sulit mempertahankan wanita sebagai milik: mereka bersikap sama kepada semua pada umumnya. Oleh sebab itu, orang bijaksana yang mengetahui kelemahan moral wanita, tidak timbul keinginan untuk marah terhadap mereka.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, beliau mengulangi syair ini untuk peneguhan batin siswanya: —
Seperti jalan raya, sungai, halaman, penginapan,
Atau kedai minuman, yang kepada semua memberikan
Yang sama satu keramahtamahan yang umum, —
Adalah sifat wanita pada umumnya; dan orang bijaksana
Tidak pernah merendahkan diri untuk marah terhadap
Kelemahan moral wanita.
Demikianlah petunjuk yang disampaikan Bodhisatta kepada siswanya, yang sejak saat itu bersikap biasa saja terhadap apa yang dilakukan wanita itu. Sementara itu, istrinya berubah sikap begitu mendengar bahwa guru tersebut telah mengetahui kelakuannya. Sejak saat itu juga, ia meninggalkan kelakuannya yang buruk.
Demikian juga dengan istri upasaka itu, saat mendengar bahwa Sang Guru telah mengetahui kelakuannya, sejak saat itu juga, ia meninggalkan kelakuannya yang buruk.
Setelah uraiannya berakhir, Sang Guru membabarkan Dhamma; dan pada akhir khotbah, upasaka itu memenangkan buah kesucian pertama (Sotāpatti-phala) . Kemudian Sang Guru
mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran tersebut, “Suami istri ini juga adalah suami istri pada kehidupan lampau, dan saya sendiri adalah guru brahmana tersebut.”
Sumber: ITC, Jataka 1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar